Sesanti

Sesanti

Kamis, 09 Januari 2014

ASTHA BRATA



ASTHA BRATA
(Delapan Macam Tindakan)

          Pedoman ini diambil dari wasiat Cupu Manik Astha Gina. Namun dalam ajaran moral ini tidak ada hubungannya dunia pewayangan dalam episode terjadinya kera “Sugriwa – Subali – Dewi Anjani” karena kutukan sang ayahanda Resi Gotama, karena ketiga bersaudara ini memperebutkan mainan super canggih pada masa itu “Cupu Manik Astha Gina”.
Dalam falsafah Jawa ajaran Astha Brata yang terdapat dalam wasiat Cupu manik Astha Gina diwujudkan dalam 8 hal. Ini Sesuai dengan arti Astha Brata itu sendiri. Astha berarti delapan, brata berarti tindakan atau laku. Ajaran Astha Brata ini-pun jangan disamakan dengan ajaran kepemimpinan yang lazim sudah diketahui oleh masyarakat Jawa yang dilambangkan dengan sifat dan watak delapan dewa (lihat tulisan: Tata nilai Kepemimpinan).
Delapan tindakan atau laku ini diwujudkan dalam symbol-simbol :
1.   Wanita
2.   Garwa
3.   Wisma
4.   Turangga
5.   Curiga
6.   Kukila
7.   Waranggana
8.   Pradangga
Adapun urainnya sebagai berikut:
1.   Wanita, merupakan jarwa dhosok dari “wanodya kang puspita”, (wanita yang cantik jelita). Wanita yang cantik jelita merupakan symbol symbol keindahan yang tiada tara. Keindahan dan kecantikan ini tidak hanya tersirat pada bentuk luarnya atau fisik saja, tetapi juga hati dan budinya, dalam pepatah Jawa disebebut “Lahang karoban manis” , lahang = air gula, karoban manis = ditambahi gula yang rasanya manis. Pepatah ini bermakna cantik luar dalam. Keindahan dan kecantikan dari wanita yang sempurna adalah simbol cita-cita manusia. Setiap orang yang bercita-cita luhur diibaratkan seperti seorang laki-laki yang ingin memiliki wanita yang cantik jelita untuk dijadikan istrinya. Dengan memiliki cita-cita yang tinggi, berarti kita harus berusaha sekuat tenaga untuk belajar, bekerja dan berusaha, tanpa kenal lelah dan pantang menyerah, “Sirah-sirah dienggo sikil, sikil-sikil dienggo sirah, ora rina ora wengi” demikian orang Jawa menyebutnya. Wanodya kang puspita disebut dengan juwita, (dalam bahasa Kawi berarti putri) yang merupakan jarwa dhosok dari “ sarju wani ing tata”, sarju = mau/setuju, wani ing tata = mau/ berani untuk tunduk pada aturan. Bukanlah ada nasehat bahwasanya : kerusakan suatu kaum atau Negara karena wanita, “Jika wanitanya baik,selalu mentaati aturan dan norma-norma yang ada maka negara tersebut akan baik pula”  
2.   Garwa, merupakan jarwa dhosok dari “sigaraning nyawa, belahan jiwa” . Setiap suami merupakan belahan jiwa istrinya, dam setiap istri adalah belahan jiwa dari suaminya. Suami istri adalah satu jiwa dalam dua badan atau raga. Dengan dasar  pandangan ini maka garwa dipakai sebagai symbol agar setiap manusia hendaknya dapat bersatu dengan lingkungannya, saudaranya atau masyarakatnya dengan semboyan “abot entheng dipikul bebarengan”. Semua orang hendaknya dianggap sebagai kawan hidup yang senasib sepenanggungan, dan hidup bermasyarakat dengan rukun dan damai saling kasih mengasihi seperti halnya sepasang suami istri yang sering diungkapkan “rukun kaya mimi lan mintuna, nganti tekan kaki-kaki lan nini-nini”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar