Sesanti

Sesanti

Sabtu, 04 Januari 2014

1. Religi



 TATA NILAI RELIGIO-SPIRITUAL

Dunia yang tergelar dengan seluruh isinya termasuk manusia ini berasal dari Tuhan dan kelak akan kembali kepada Tuhan (mulih mula mulanira). Tuhan ialah asal-muasal dan tempat kembali segala sesuatu (sangkan paraning dumadi). Dengan kekuasaan-Nya yang tanpa batas, Tuhan menciptakan dunia beserta isinya (jagad gedhé; makrokosmos), termasuk manusia (jagad cilik; mikrokosmos), dengan keagungan cinta kasih-Nya. Tuhan adalah penguasa di atas segala penguasa yang pernah ada di dunia. Tuhan tidak dapat digambarkan dengan perumpamaan apa pun (tan kena kinaya apa). Ciptaan Tuhan beraneka ragam wujud dan derajatnya, berubah-ubah, dan bersifat sementara (owah gingsiring  kanyatan,  mobah  mosiking  kahanan),  bahkan  manusia  hidup  di  dunia  ini hanyalah bersifat sementara seakan-akan sekadar singgah sejenak untuk meneguk air (urip iku  bebasan  mung mampir  ngombé),    sedangkan Tuhan  merupakan  Kenyataan  Sejati (Kasunyatan Jati) yang bersifat Azali dan Abadi, tiada berawal pun pula tiada berakhir. Tuhan adalah dzat yang meliputi segala sesuatu, tetapi tidak dapat diinderai dengan cara apa pun (adoh tanpa wangenan, cedhak tanpa sénggolan). Meskipun demikian, Tuhan senantiasa menyertai dan mengawasi dunia ini sehingga tiada satu peristiwa sekecil apa pun yang terjadi di luar penglihatan Tuhan (Pangeran iku  ora saré).

Dunia dengan segala isinya yang diciptakan Tuhan ini beraneka rupa wujudnya dan berjenjang-jenjang derajatnya. Namun demikian semua tertata dan terkait satu sama lain secara selaras, serasi, dan seimbang (harmonis). Masing-masing unsur atau komponen memiliki  peran  dan fungsi  yang  telah  ditentukan  secara  kodrati  oleh  Tuhan,  sehingga apabila terjadi ketidaktepatan posisi atau ketidaktepatan fungsi atas salah satu unsur atau komponen,  maka  terjadilah  kekacauan  (disharmoni).  Kekacauan  pada  satu  satuan kenyataan (unit realitas) akan mengguncangkan seluruh tatanan alam semesta (kosmos). Disharmoni pada mikrokosmos akan mempengaruhi harmoni makrokosmos, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, manusia sebagai mikrokosmos yang dibekali kesadaran akan cipta, rasa, dan karsa, wajib menjaga harmoni alam semesta ini dengan tanpa pamrih pribadi yang sempit atau hawa nafsu egoisme, melainkan harus dengan rela hati lahir batin (lila legawa lair trusing batin) bersungguh-sungguh berusaha keras secara terus-menerus (sepi ing pamrih ramé ing gawé) mengusahakan dan menjaga kebenaran (bener), kebaikan (becik), keindahan (hayu), keselamatan dan kelestarian (rahayu) dunia   (hamemayu hayuning bawana).

Dunia yang benar, baik, indah, selamat, dan lestari itu tampak menggejala dalam kehidupan yang serba tertib dan teratur (tata), semua kegiatan kehidupan dilaksanakan dengan cermat dan saksama (titi), sehingga membuahkan ketenteraman (tentrem), kemakmuran dan kesejahteraan (karta raharja). Dalam kehidupan nyata seringkali terjadi peperangan antara keteraturan dan kekacauan. Manusia wajib menegakkan keteraturan dengan menghapus kekacauan  (memasuh  malaning  bumi).  Semua  itu  bisa  terlaksana  apabila  manusia berusaha  keras  mengerahkan  akal  budi  dan  segenap  kemampuannya  untuk mewujudkannya (rahayuning bawana kapurba waskithaning manungsa). Itulah darma bakti yang harus dilaksanakan oleh manusia kepada Tuhan, sebagai makhluk paling mulia yang diciptakan-Nya.

Dalam usaha menapaki kehidupan, manusia harus sadar bahwa seluruh daya upaya yang dikerahkannya   memiliki   keterbatasan.   Bagaimanapun   juga,   Tuhanlah   yang   akan menentukan kehidupan tiap-tiap orang. Oleh karena itu, setiap orang  harus ikhlas  (lila legawa) dan dengan sabar menerima (sabar narima) peran dan nasib perjalanan hidupnya. Kematian,  jodoh,  anugerah,  garis  nasib,  dan  rejeki  bagi  tiap-tiap  orang  merupakan kepastian yang telah ditentukan oleh Tuhan (siji pesthi, loro jodho, telu wahyu, papat kodrat, lima bandha). Manusia sekadar menjalani hidup ini (manungsa saderma nglakoni, kaya wayang upamané) sebagaimana digariskan oleh Tuhan. Akan tetapi, nilai-nilai seperti itu bukan berarti mengajak manusia untuk pasrah total tanpa usaha dalam hidup (fatalistik), melainkan dimaksudkan sebagai kerendahhatian agar hendaknya manusia tidak sombong senantiasa merasa bisa melakukan apa saja (rumangsa bisa), namun harus tahu diri akan keterbatasan kemampuannya (bisa rumangsa; ngrumangsani), jangan mendikte kehendak Tuhan (aja nggégé mangsa), dan pandai-pandailah bersyukur (narima ing pandum).

Dalam batas kewajaran manusia harus tetap berusaha (mbudidaya) meningkatkan taraf harkat  dan  martabat  kehidupannya,  di  antaranya  dengan  mengusahakan  dan  terus- menerus meningkatkan kekuasaan, kekayaan, dan kepandaian atau ilmu (wirya, arta, winasis) yang dimilikinya. Dengan memiliki dan meningkatkan ketiga hal itu, diharapkan kehidupannya menjadi lebih benar, lebih baik, lebih indah, dan lebih bijaksana, bahkan sedapat mungkin menjadi orang yang sejahtera, berbahagia, dan berpengaruh secara luas karena memiliki kedudukan yang penting dalam masyarakat (mukti wibawa mbaudhendha). Meskipun mencari harta dan kedudukan lahiriah memang dianjurkan, namun dimensi batiniah tetap lebih diutamakan (sugih tanpa bandha).

Pada dasarnya tidak seorang pun mengetahui dengan pasti garis hidupnya. Oleh karena itu, upaya keras mengubah nasib masih tetap terbuka lebar dengan cara lebih tekun berusaha dan lebih khusuk berdoa (nang donya kang sugih puji, yèn sira temen satuhu, tuhu teka dennya muja), sebab apa yang tampaknya seakan-akan telah digariskan sesungguhnya masih dapat diubah dengan doa dan ikhtiar kerja keras secara tepat (kodrat bisa diwiradat). Dengan demikian, sebaik-baik sikap hidup ialah merampungkan segala urusan keikhtiaran sampai derajat tertinggi menurut kemampuan manusiawinya (mupus), kemudian menunggu keputusan Tuhan dengan pengharapan yang baik. 

Agar dalam hidupnya manusia banyak mendapatkan keselamatan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan dijauhkan dari malapetaka (rahayu ingkang sami pinanggih, widada nir ing sambikala), maka manusia harus senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan. Mendekatkan diri kepada Tuhan dengan benar hendaklah dimulai dengan membersihkan diri dari perbuatan tercela lima M (ma-lima), yakni membunuh (mateni), mencuri (maling), berjudi  (main),  berzina  (madon),  menghisap  candu  atau  narkoba  jenis  apa  pun  dan meminum minuman keras yang dapat mengakibatkan lupa diri (madat; mendem; mabuk). Di samping itu, agar proses mendekatkan diri kepada Tuhan berhasil dengan baik, manusia harus mengurangi kenikmatan duniawi dan senantiasa waspada terhadap godaan nafsu duniawi  yang  menggiurkan  (cegah  dhahar  lawan  guling,  kaprawiran  dèn  kaesthi), mengontrol dan membimbing nafsunya (lauwamah – amarah – supiyah – muthmainah). Berkomunikasi secara spiritual dengan Tuhan (saréngat – tarékat – hakékat – makripat; sembah raga – sembah cipta – sembah jiwa – sembah rasa). Manusia harus menyelami dirinya sendiri kedekatannya dengan Tuhan dan harus senantiasa berusaha keras agar semakin dekat dengan Tuhan menurut keyakinannya.

Dalam  berkomunikasi  spiritual  dengan Tuhan, setiap  orang  memiliki kebebasan  penuh beribadah menurut tata cara kepercayaan-keagamaan yang diyakininya. Tidak seorang pun berhak untuk memaksakan kepercayaan-keagamaannya kepada siapa pun dan dengan cara apa pun dan memaksakan tata cara peribadatan apa pun yang diyakininya kepada siapa pun. Demikian pula tidak seorang pun berhak melarang atau menghalang-halangi seseorang atau sekelompok orang untuk berkomunikasi dengan Tuhan menurut kepercayaan-keagamaan dan tata cara peribadatan yang diyakininya, karena kepercayaan- keagamaan merupakan hak azasi manusia yang secara kodrati melekat pada tiap-tiap orang. Perbedaan keyakinan merupakan kewajaran yang harus dihormati oleh setiap orang. Orang  harus toleran dan menjaga perasaan orang  lain  (amemangun karyénak tyasing sasama) dalam keberbedaan keyakinan satu sama lain. Tidak seorang pun layak merasa paling benar ketakwaannya kepada Tuhan (ora golèk beneré dhéwé) karena peribadatan yang dijalankannya, sebab derajat ketakwaan seseorang lebih dinilai dari perilaku kongkritnya dalam kehidupan sehari-hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar