Sesanti

Sesanti

Rabu, 29 Januari 2014

NDORO PURBO



Siapakah Ndoro Purbo?

Sekelompok orang dengan wajah bercadar merusak makam Raden Bekel Kyai Ageng Prawiropurbo, lalu siapakah Kyai Ageng Prawiropurbo?,  antara tahun 1905-1933 nama Ndoro Purbo amatlah terkenal di kalangan masyarakat Yogya, dia juga menjadi semacam pseudo atas kekuasaan raja Mataram di hadapan rakyatnya, bila secara resmi pamannya adalah Sri Sultan Hamengkubuwono VII, tapi di jalan-jalan Yogya nama Ndoro Purbo seperti nyawa dari kehidupan keseharian rakyat Yogya.
Ki Ageng Prawiropurbo atau lebih dikenal Ndoro Purbo, adalah bangsawan tinggi Yogyakarta, ia cucu dari Sri Sultan Hamengkubuwono VI,  ia mengalami banyak musibah dalam hidupnya, isteri yang dicintai meninggal, anaknya sakit-sakitan, semasa muda sebelum menikah ia juga sering sakit, sakitnya itu kemudian sembuh ketika ia mengenal perempuan yang kemudian dijadikan isterinya, rasa sayang tumbuh, ia mencintai isterinya dengan sangat, anak-anak lahir dan sebagai lelaki ia merasa sudah sempurna.  Tapi kebahagiaan itu tak lama berlangsung, berturut-turut musibah datang, isterinya yang dicintai meninggal,  anaknya sakit-sakitan dan ia tersiksa juga melihat kehidupan bermewah-mewah baik di kalangan Keraton dan ia gelisah melihat kemiskinan di kalangan rakyat, kegelisahannuya ini kemudian membawa dia ke dalam pencarian spiritual.
“Kegilaan kerap menimpa para Sufi”  itulah yang kerap kita lihat dalam kehidupan manusia yang secara total sudah masuk ke dalam alam Tuhan.  Kehidupan manusia yang sudah baku, yang sudah mapan, yang sudah terpenjara oleh aturan-aturan tak bisa menembus teka-teki ruang Tuhan yang melingkupi alam manusia, kejadian dunia ini hanya dilihat sebatas perasaan dan harafiah, tapi tidak bisa menembus batasan waktu. Ndoro Purbo dalam perjalanan spiritualnya mengalami ‘kegilaan’ yang dipahami oleh orang awam. Ia hidup menggelandang dari satu tempat ke tempat yang lain, ia mencari kebenaran dalam ruang paling sunyinya.
Hingga satu malam ketika ia tertidur di pasar ia bermimpi tentang pengajaran hidup “Bahwa untung dan rugi manusia jangan sampai menghancurkan kebahagiaan hidup”   Kehidupan manusia selalu saja mengejar keuntungan, waktunya hilang oleh nafsu karena mengejar materi, Ndoro Purbo lewat bimbingan Tuhan yang hidup dalam jiwanya mengajak manusia tidak usah hidup ke dalam alam perbudakan materi, jiwa harus dilepaskan dari penjara-penjara materi, kebahagiaan terbesar manusia adalah ketika ia bertemu Tuhan dalam “bahasa-bahasa kemanusiaan”.
Perjalanan hidup Ndoro Purbo amat berat, ia harus menggelandang dan menjadi gembel untuk memberikan pencerahan kepada manusia. Di Yogya Ndoro Purbo kerap berkeliaran di seputar pasar Yogya. Suatu saat Ndoro Purbo berjalan ke Kotagede, ia duduk di Sargedhe, (Pasar Gede Kotagede), ia duduk bersila lama di dekat orang jual arang. Tiba-tiba ia berdiri dan menepuk seseorang, lalu dia meludah pada orang itu, orang yang berjalan marah luar biasa karena tanpa sebab wajahnya diludahi, orang itu lantas mau ngampleng Ndoro Purbo, tiba-tiba beberapa ibu-ibu bakul sayur, mencegah orang yang mau ngampleng ke Ndoro Purbo “Jangan…jangan itu Ndoro Purbo” Orang itu melihat Ndoro Purbo mengacungkan jari telunjuknya ke atas lalu Ndoro Purbo berteriak “Siji…Siji (satu…satu)” . Beberapa hari kemudian orang yang diludahi ndoro Purbo pulang ke rumahnya yang ada di Sopingen, Kotagede melihat ibunya tiba-tiba sembuh dari sakit, padahal dia berjalan-jalan ke pasar sedang memikirkan sakit ibunya, bisnis penggergajian kayunya maju pesat, ia juga ditawari sebuah rumah oleh orang Belanda yang akan pulang ke negeri Belanda, gratis asal dirawat, rumah itu ada di Magelang.
Keberuntungan ini berlangsung hanya satu tahun, lalu dia mendapatkan musibah lagi, hidupnya labil ekonomi tidak seperti di masa setahun sebelumnya. Lalu ketika ia sedang berjalan-jalan ke tepi sungai Gajah Wong, ia sedang melihat Ndoro Purbo menunjuk-nunjuk arah masjid, ia tersadar ternyata selama keberuntungannya itu berjalan ia lupa sholat. Sejak itu orang itu sholat dan mendapatkan pencerahan, bahwa kerugian dan keberuntungan hanyalah romantika kehidupan janganlah ini dibuat agar “manusia melupakan Tuhan”.
Ndoro Purbo senang keluyuran di jalan malam-malam, seluruh orang Yogyakarta mengenal Ndoro Purbo, suatu siang Ndoro Purbo mendatangi tukang dawet (cendol) dia lantas mengobok-obok dawet dengan tangannya. Ndoro Purbo kemudian menempelkan tangannya ke dahi tukang dawet. Tak lama dawetnya laku keras dan jadi dawet paling laris di Yogya, anaknya tukang dawet juga menjadi dokter berkat jualan dawetnya.
Bagi orang Jawa, dunia tidak melulu dilihat dari situasi wadag-nya, tapi dari situasi yang tidak kelihatan, situasi yang disebut sebagai “Rasa”. Ilmu dari Ndoro Purbo adalah Ilmu Merasai, Kontemplasi kegilaannya adalah “Ruang Bicara antara Kemanusiaannya dengan Tuhan”. Ndoro Purbo memberikan pencerahan bahwa kehidupan yang kita jalani jangan dijudge, dicap, dilabeli ini itu, tapi jalani dengan ikhlas.
Ndoro Purbo wafat tahun 1933, seluruh rakyat Yogyakarta berduka pada hari pemakamannya ratusan ribu orang Yogya mengantarkan jenasah Ndoro Purbo ke tempat peristirahatannya yang terakhir.
Makam bagi orang Jawa adalah sesuatu yang sakral, makam bukan tempat pemujaan tapi makam adalah tempat mengenang adanya hubungan masa kini dan masa lalu, bahwa kehidupan manusia diikatkan pada keterkaitan waktu. Dirusaknya makam Ndoro Purbo di Yogyakarta adalah penghinaan terbesar bagi orang Jawa, apalagi makam itu adalah orang yang paling dihormati oleh orang Jawa utamanya subkultur Mataraman.
-Anton DH Nugrahanto-. 

OPINI | 19 September 2013 | 13:29 Dibaca: 1369   Komentar: 8   3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar